Silek Tuo
February 24, 2010
Di sanalah kami sering tajammu, kongkow-kongkow sembari minum kopi panas mengepul dan mengudap camilan kering. Di sebuah rumah pohon yang besar dan teduh. Entah siapa yang dulu membangunnya di atas pohon besar ini sebagai markas kami, Geng Rumah Pohon.
Hari itu kami kedatangan tamu. Seseorang dari Minang jauh, kawan dari salah satu anggota Geng Rumah Pohon. Dia tinggi besar, badannya liat seperti pendekar, dan ternyata dia memang menguasai jurus-jurus silek tuo, aliran silat yang sudah langka dari Minang.
Aku pernah mendengar aliran ini, hebat katanya. Ah, tapi aku selalu skeptis, memandang remeh terhadap segala sesuatu. Akan kuuji.
“Bukankah silek tuo itu silat yang menggunakan langkah Alif, Lam, Lam, Ha dan Mim, Ha, Mim, Dal, melambangkan Allah dan Muhammad?” tanyaku.
“Betul”
“Coba, bisakah kau plintir tanganku ini?” aku sedikit mencibir.
Dia bergerak cepat, tangannya bergerak mengalir namun berenergi dan kuat. Langkahnya ringan lantas menghentak, menggoyang rumah pohon kami.
Buk! Bum! Dan tiba-tiba saja aku telah terkapar mencium lantai kayu.
Wow. Ternyata hebat betul silek tuo itu. Sakti. Dan aku tidak mencibirnya lagi.
—Dini hari Rabu, 24 Februari 2010
Seksi
February 12, 2010
Kamu duduk di sofa panjang ruang tamu, menggendong bayi mungil. Lucu. Bayiku. Bayi kita. Dia menyedotmu kuat-kuat.
Hari cerah nan gerah dan bulir-bulir keringatmu jatuh lambat melewati belah dada yang terbuka. Aaah..
Seksi.
Adakah yang lebih seksi dari kasih sayang ibu kepada anaknya?
— Dini hari, Jum’at 12 Februari 2010
SMS.
November 20, 2009
Aku terbangun dan membaca SMS. Oke. Berpikir sebentar, mengetik sebentar, kirim balasan sebentar.
Tidur.
Terbangun lagi. Tadi sudah balas SMS belum ya?
Periksa Sent Items.
Oh iya, ada.
Tidur.
P.S.: Setelah aku benar-benar bangun, ternyata SMS tadi belum kubalas.
Proyekan
November 18, 2009
“WOI! Lagi ngapain lu? Proyekan ya?”
Mas Nunggal tiba-tiba membuka gordin jendela kamar Rizal, tepat di depan aku yang sedang asyik dengan komputer. Mas Nunggal adalah fotografer, beberapa waktu lalu dia menikah dengan teman SMA-ku. Kini tinggal satu kost dengan Rizal, teman kuliahku satu jurusan. Kamarnya paling pojok, dekat kamar mandi, rada bau, tetapi istrinya sepertinya tidak terlalu peduli.
“Err, iya mas, lagi ngerjain logo” jawabku sekenanya, sedikit kaget.
“Whew, mroyek teruuus! Traktiran lah, boy!” katanya sambil nyengir kuda.
Si Zaki, temanku satu kontrakan, tiba-tiba saja sudah di sampingku, ikut nimbrung.
“Heh, keset dulu, kamar orang ini, Rizal lagi cari makan, kamu duduk di sana saja!” kataku ketus sembari menunjuk sisi lantai yang tidak berkarpet.
Dia hanya diam. Memperhatikanku.
Tiba-tiba saja semua sunyi. Mas Nunggal beralih kembali ke kamarnya. Zaki masih duduk di sampingku, entah sedang memainkan apa.
Dan aku, aku tidur. Tidur lama. Persetan dengan proyekan.
— Sore hari Selasa, 17 November 2009
Koneksi Malaysia Tuan Jack
November 15, 2009
Dengan bangga tuan Jack Gande mengibas-ngibaskan telepon genggam putih barunya. “CDMA,” ujarnya setengah berbisik seperti ini suatu rahasia yang tak boleh didengar orang lain. “Dari Malaysia. Rongatusewu,” katanya, dilanjutkan sambil terkekeh-kekeh.
Mendengar harganya dan teringat dengan nomor StarOne-ku di rumah aku segera berkata, “Aku gelem, pesenno siji ngkas yo!“
Lalu dengan telunjuk kanannya tuan Jack mengisyaratkan pada sepatu putih yang dikenakannya. Keren. Gaul. “Malaysia punya. Karek pesen koncoku sing ndek kono.“
Lalu azan Jum’at berkumandang dan tuan Jack membawaku ke tempat rahasianya di masjid, sebuah kotak kecil di sudut ruang yang tersembunyi. Orang aneh, tuan Jack itu.
Tupailien
November 14, 2009
Ibuku punya peliharaan baru, hewan entah apa namanya. Dia berkata padaku nama jenisnya suatu waktu, tapi tak sungguh masuk ke dalam telingaku.

Yap. Tupai. Tapi badannya bisa memanjang sampai ke seberang ruangan sembari dia melompat dan berputar-putar seperti bor. Imut juga sebenarnya kalau dilihat-lihat.
Lalu suatu waktu dia tampak tidak tenang, badannya gemetar luar biasa dan pipis ke mana-mana. Setelah sembuh, tubuhnya jadi mengecil seukuran hamster.
— 09:00 Sabtu, 14 November 2009
’80s
November 10, 2009
Beliau bernama Bu Erna. Wali kelasku saat kelas 6 SD. Sedikit galak, disiplin, namun yang paling kuingat: beliau adalah kakak kandung penyanyi tenar era 80-an, Atiek C.B.
Seriously.
Hari itu kami semua satu kelas sedang gugup. Kami, para murid kelas 3 SMA, akan menghadapi ujian kelulusan sekolah. Ujian terakhir. Dan entah bagaimana kronologisnya, Bu Erna tiba-tiba saja kembali menjadi wali kelasku, penguji kami semua. Coba tebak, apa materi ujiannya?
Menyanyi.
Yup, menyanyi di depan kelas seperti dulu kala aku masih SD. Namun sedikit berbeda, karena sekarang kami tidak harus bergaya seperti conductor yang mengibas-ibaskan tangan seperti memimpin orkestra imajiner. Pun lagu yang wajib dinyanyikan bukanlah lagu nasional, patriotis, mars, atau semacam itu.
Kami harus menyanyikan lagu-lagu era 80-an.
Rafika Duri, Nia Daniati, Koes Plus, Odhie Agam, Chrisye, atau artis-artis lainnya, wajib ’80s, atau tidak lulus sekolah.
Whew.
Sungguh tegang, aku bolak-balik lari ke toilet untuk kencing. Sejak kapan aku jadi penggila Rafika Duri, gerutuku. Satu persatu teman-teman maju untuk menyanyi kemudian tibalah giliranku.
Aku maju. Menyanyikan sebuah lagu.
—Qailulah (istirahat siang) Senin, 9 November 2009
P.S: Yang jelas aku lulus. Aku bangun, berdiskusi sebentar dengan Hafiz, dan terciptalah blog ini.
Abdul Mughni
November 10, 2009
Ruang di bawah tangga adalah tempat berganti seragam untuk pelajaran olahraga. Adalah juga tempat bermalas-malas menunda waktu masuk ke kelas kembali.
Adalah juga mushola.
Dan kala itu masuklah bapak guru yang dekat di hati: Abdul Mughni. Dengan keakraban yang renyah beliau maju di posisi paling depan, beberapa dari kami beranjak bangkit ikut untuk diimami. Ruang bawah tangga tak sungguh cukup luas untuk menampung kami semua, maka beberapa, termasuk aku, tak mendapat tempat untuk juga berjamaa’ah.
Maka bapak Abdul Mughni yang cerdas berbalik, menyadari situasi, dan mengumpulkan kami semua pada barisan yang lebih erat. Dipindahkannya posisi berdirinya mencari yang paling hemat tempat.
“Wes yo rek, aku ndek kene lho yo,” ujarnya pada kami semua. “Nggonmu pasno dhewe sing enak.”
Dan kami pun shalat bersamanya.
Abdul Mughni guru kami, karakternya melekat lebih yang disadari. Jika aku sampai kini terus berusaha menjadi lebih easy-going, selalu memilih pilihan yang paling mudah, akrab dengan yang usianya jauh di bawahku, barangkali itu semua adalah jejak-jejak Bapak Guru Abdul Mughni yang kesannya tak pernah bisa hilang dari dalam hati.
— Sekitar 00:45 Selasa, 10 November 2009.
Satu dari tiga mimpi.
P.S: Abdul Mughni yang asli, bapak guru kami, sekarang adalah kepala sekolah di tempatnya bertahun mengabdi.
Kameralien.
November 9, 2009
Seumur hidupku belum pernah aku melihat kamera ajaib macam begitu. DSLR, hitam legam, Sony. Bedanya, badan kamera tadi gepeng memanjang. Di ujung kanan atasnya, di mana biasa ada tombol shutter, ada tambahan bentuk oval besar dengan macam-macam tombol dan dial.
Untuk yang sudah tahu dia sekilas tampak seperti kamera video. Untuk yang tidak? Lebih mirip senter buatan alien, barangkali.
“Ayo coba tebak harganya,” ujar Si Bapak pemilik toko kamera, DSLR aneh itu di genggamannya.
Sony, pikirku. Sony biasanya relatif lebih murah dibanding Canon atau Nikon. Tapi masuk segmen yang mana? Pemula? Pro? Di antaranya?
Salah satu cara terlihat cerdas adalah dengan cepat dan percaya diri memilih satu dari beberapa pilihan, walau sesungguhnya di dalam hati tidak seberapa yakin. Aku pilih pemula:
“Nggak sampai delapan ya, Pak?” ujarku dengan wajah ditegas-tegaskan bak seorang analis yang sudah terbiasa berpikir masak-masak dalam menghadapi segala sesuatu.
Si Bapak tidak pernah mengiyakan, tidak pernah menyalahkan.
—Dini hari Minggu, 8 November 2009.
Hello (dream) world!
November 9, 2009
Satu lagi blog geje dari kang Rukma Pratista dan Hafiz Rahman.
Blog ini khusus untuk nyatat mimpi-mimpi gak jelas kami, para tukang tidur, dan mungkin kejadian-kejadian nyata yang bersinggungan dengannya.
Ayo, sekarang bubu’ lagi.
*LHEEEEEE*