Silek Tuo

February 24, 2010

Di sanalah kami sering tajammu, kongkow-kongkow sembari minum kopi panas mengepul dan mengudap camilan kering. Di sebuah rumah pohon yang besar dan teduh. Entah siapa yang dulu membangunnya di atas pohon besar ini sebagai markas kami, Geng Rumah Pohon.

Hari itu kami kedatangan tamu. Seseorang dari Minang jauh, kawan dari salah satu anggota Geng Rumah Pohon. Dia tinggi besar, badannya liat seperti pendekar, dan ternyata dia memang menguasai jurus-jurus silek tuo, aliran silat yang sudah langka dari Minang.

Aku pernah mendengar aliran ini, hebat katanya. Ah, tapi aku selalu skeptis, memandang remeh terhadap segala sesuatu. Akan kuuji.

“Bukankah silek tuo itu silat yang menggunakan langkah Alif, Lam, Lam, Ha dan Mim, Ha, Mim, Dal, melambangkan Allah dan Muhammad?” tanyaku.

“Betul”

“Coba, bisakah kau plintir tanganku ini?” aku sedikit mencibir.

Dia bergerak cepat, tangannya bergerak mengalir namun berenergi dan kuat. Langkahnya ringan lantas menghentak, menggoyang rumah pohon kami.

Buk! Bum! Dan tiba-tiba saja aku telah terkapar mencium lantai kayu.

Wow. Ternyata hebat betul silek tuo itu. Sakti. Dan aku tidak mencibirnya lagi.

—Dini hari Rabu, 24 Februari 2010

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.